Pagi ini langit begitu gelap
Dunia pun menertawaiku karena kepecundanganku
Tapi aku tak peduli
Tetap saja tida kuhiraukan
Telah tegak kupancangkan tubuh ini menantang badai
Tapi kini aku tak tahu
Rasanya tubuh ini terasa sangat lelah
Aku hanya diam
Kebekuan di bibirku aku rasa telah membahasakan semuanya
Kebekuan di bibirku aku rasa telah mengisyaratkan perasaan ini
Aku hanya terdiam
Tak ada satupun yang kulihat di jalan yang pajang ini
Tak ada satupun suara yang kudengar
Dan akhirnya sentuhan dperut kiriku pun menyadarkan akku dari lamunanku
kau pun bertanya "berapa harganya??"
Aku pun masih tak paham apa yang kau tanyakan
Aku baru sadar ternyata lamunanku begitu menyedihkan
Dalam khayalku ini kucobati obati semua luka yang ada
Aku tak pernah tahu apakah ini bisa sembuh atau tidak
Jikapun sembuh kupikir akan lama
Dan pasti akan menimbulkan beka yang nampak jelas
ahhhhhhh..........
Aku memang pecundang
Aku masih berjalan
Perjalanan ini terasa sangat jauh
Jauh sekali..............
Langit masih gelap
Malah semakin gelap
Aku masih diam
Sampai akhirnya sungai kecil mengalir dipipiku kiriku
Tak lama hujan pun ikud turun
Berhenti aku disebuah teras kecil pertokoan
Kutulis puisi kecil ini
Aku masih tak mengerti
Bahkan dunia pun tak mau tahu tentang kesedihanku
Ia turunkan hujan agar tiada yang tahu aku sedang menangis
Sepi......
Sendiri..........
Ntahlah....
Aku masih tak mengerti kenapa semua ini terjadi
Hujan pun semakin deras
Kuputuskan untuk melanjutkan perjalnan yang melelahkan itu
Dindin terasa...
tubuh ini mengigil
Tetesan di pipiku juga kurasakan semakin deras
Timbul tanyaku dalam hati
Apakah langit menunjukan aku mampu menghadapi semua ini
Hingga ia turunkan hujan agar aku tampak kuat dan tegar
Ah mungkin iaa..
Ah ntahlah...
Aku blom siap dan tak akan pernah siap untuk kehilangan dia
Ah ntah lah aku masih tak mengerti
Kuharap semuanya baik
KUharap luka ini cepat sembuh
aggggggggggggggghhhhhhhhhhhhhhhh............
Aku masih saja berharap
Ntahlah,,,
Aku masih tetap tak mengerti.
(yayan syahfajar)
13 februari 2012
Dunia pun menertawaiku karena kepecundanganku
Tapi aku tak peduli
Tetap saja tida kuhiraukan
Telah tegak kupancangkan tubuh ini menantang badai
Tapi kini aku tak tahu
Rasanya tubuh ini terasa sangat lelah
Aku hanya diam
Kebekuan di bibirku aku rasa telah membahasakan semuanya
Kebekuan di bibirku aku rasa telah mengisyaratkan perasaan ini
Aku hanya terdiam
Tak ada satupun yang kulihat di jalan yang pajang ini
Tak ada satupun suara yang kudengar
Dan akhirnya sentuhan dperut kiriku pun menyadarkan akku dari lamunanku
kau pun bertanya "berapa harganya??"
Aku pun masih tak paham apa yang kau tanyakan
Aku baru sadar ternyata lamunanku begitu menyedihkan
Dalam khayalku ini kucobati obati semua luka yang ada
Aku tak pernah tahu apakah ini bisa sembuh atau tidak
Jikapun sembuh kupikir akan lama
Dan pasti akan menimbulkan beka yang nampak jelas
ahhhhhhh..........
Aku memang pecundang
Aku masih berjalan
Perjalanan ini terasa sangat jauh
Jauh sekali..............
Langit masih gelap
Malah semakin gelap
Aku masih diam
Sampai akhirnya sungai kecil mengalir dipipiku kiriku
Tak lama hujan pun ikud turun
Berhenti aku disebuah teras kecil pertokoan
Kutulis puisi kecil ini
Aku masih tak mengerti
Bahkan dunia pun tak mau tahu tentang kesedihanku
Ia turunkan hujan agar tiada yang tahu aku sedang menangis
Sepi......
Sendiri..........
Ntahlah....
Aku masih tak mengerti kenapa semua ini terjadi
Hujan pun semakin deras
Kuputuskan untuk melanjutkan perjalnan yang melelahkan itu
Dindin terasa...
tubuh ini mengigil
Tetesan di pipiku juga kurasakan semakin deras
Timbul tanyaku dalam hati
Apakah langit menunjukan aku mampu menghadapi semua ini
Hingga ia turunkan hujan agar aku tampak kuat dan tegar
Ah mungkin iaa..
Ah ntahlah...
Aku blom siap dan tak akan pernah siap untuk kehilangan dia
Ah ntah lah aku masih tak mengerti
Kuharap semuanya baik
KUharap luka ini cepat sembuh
aggggggggggggggghhhhhhhhhhhhhhhh............
Aku masih saja berharap
Ntahlah,,,
Aku masih tetap tak mengerti.
(yayan syahfajar)
13 februari 2012