Malam ini, aku melihat namamu tergambar pada pasang surut angin.
Berlabuh dalam ombak yg menenggelamkan ilusi.
Aku, masih saja kau, ataupun dia, tertanam pasir, dalam sesak.
Bersembunyilah kau slalu dlm api kelam..
Aku tau kau merindui nyawa dalam arti namanya.
Walau khayal, tak nyata, tak nyana.
Apa kau tak rasa?
Aku mencumbui tiap jengkal mimpimu..
Tak sadarkah kau?
Aku mencandui tiap nadi merah hatimu ..
Merah seperti darah, bening layaknya air mata..
Aku menyentuhmu, menghilangkan bathinku.
Aku merindumu, menerbangkan nyawaku..
Sakit, sepertinya sempit, gelap dan padam.
Maka aku, ingin melayang, sejauh apa itu udara.
Hingga aku ataupun kulitku, tak segalanya, telah buta oleh auramu..
Aku menyerah.
Pada awan yang menghujaniku dengan derita.
Aku berhenti, oleh sesuatu yg kau sebut cinta..
(http://dhe-ine.blogspot.com/search/label/puisi)
Berlabuh dalam ombak yg menenggelamkan ilusi.
Aku, masih saja kau, ataupun dia, tertanam pasir, dalam sesak.
Bersembunyilah kau slalu dlm api kelam..
Aku tau kau merindui nyawa dalam arti namanya.
Walau khayal, tak nyata, tak nyana.
Apa kau tak rasa?
Aku mencumbui tiap jengkal mimpimu..
Tak sadarkah kau?
Aku mencandui tiap nadi merah hatimu ..
Merah seperti darah, bening layaknya air mata..
Aku menyentuhmu, menghilangkan bathinku.
Aku merindumu, menerbangkan nyawaku..
Sakit, sepertinya sempit, gelap dan padam.
Maka aku, ingin melayang, sejauh apa itu udara.
Hingga aku ataupun kulitku, tak segalanya, telah buta oleh auramu..
Aku menyerah.
Pada awan yang menghujaniku dengan derita.
Aku berhenti, oleh sesuatu yg kau sebut cinta..
(http://dhe-ine.blogspot.com/search/label/puisi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar