Manfaat Statistik
Sadar
atau tidak, sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari, kita sering
menjumpai informasi-informasi statistik baik yang disajikan lewat media
elektronik maupun lewat media cetak. Informasi-informasi tersebut disajikan dalam bentuk angka-angka, tabel, atau grafis. Informasi seperti laju pertumbuhan penduduk, hasil pooling tentang cara pemilihan presiden, keadaan penduduk prasejahtera, pengangguran
sarjana, persentase dana pembangunan yang dikorupsi pejabat, dan
sebagainya; merupakan beberapa contoh kecil dari sekian banyak hal
lainnya yang berkaitan dengan pemanfaatan statistik. Dapat dikatakan bahwa statistik memiliki peran penting dan sudah menjadi bagian dalam kehidupan manusia moderen. Ole
h sebab itu pemahaman terhadap statistik menjadi sangat diperlukan.
h sebab itu pemahaman terhadap statistik menjadi sangat diperlukan.
Mata kuliah statistik merupakan salah satu mata kuliah yang diajarkan di perguruan tinggi. Mata kuliah ini diharapkan dapat membantu mahasiswa menangani informasi yang bersifat kuantitatif. Sebagai calon ilmuwan, mahasiswa diharapkan memiliki kemampuan dalam menggunakan pendekatan ilmiah dalam memecahkan masalah. Penelitian
akademis -seperti yang diterapkan dalam penulisan skripsi- adalah salah
satu kegiatan keilmuan di mana permasalahan yang ada dipecahkan dengan melalui penggunaan pendekatan ilmiah. Dalam
memecahkan permasalahan maka statsitik dapat berperan sebagai alat
bantu yang dapat digunakan untuk menangani data-data kuantitatif yang
diperoleh dalam penelitian. Dengan
kata lain, melalui analisis statistik, dapat digambarkan situasi,
kondisi, atau fakta yang diteliti dan sekaligus dapat diperoleh suatu
kesimpulan yang masuk akal.
Namun demikian, meskipun statistik penting, pada umumnya mahasiswa kurang berminat mempelajarinya. Barangkali pernyataan Ullman (1978:5) yang mengatakan bahwa pelajaran statistik addalah pelajaran yang “menggentarkan”, ada benarnya. Ini
mungkin terjadi karena adanya anggapan bahwa dengan mempelajari
statistik maka seseorang harus benar-benar memiliki kemampuan matematika
yang kuat. Tentu saja, jika yang dipelajari adalah statistika teoritis atau statistika matematis. Namun,
untuk belajar statistika terapan -khusus untuk kepentingan penelitian
ilmiah- seseorang tidak perlu memiliki latar yang kuat di bidang
matematika. Cukup dengan
mengetahui prinsip-prinsip dasar aritmatika, seperti penjumlahan,
pengurangan, perkalian, pembagian, dan penarikan akar. Tepat
sekali apa yang dikatakan Pasaribu (1981:6) bahwa kuliah statistik (di
jurusan non-statistik) bukan dimaksudkan untuk menjadikan seseorang
sarjana statistik, tapi untuk kepentingan memberikan pengetahuan yang
dbutuhkan dalam kegiatan penelitian.
Memang benar bahwa statistika dan matematika masing-masing menggunakan prinsip-prinsip aritmatika. Namun
menurut Ullman (1978:5) ada perbedaan mendasar yang terdapat di antara
keduanya; matematika adalah berurusan dengan suatu yang pasti, presisi,
eksata, dan tepat, sementara statistika berurusan dengan suatu yang
tidak pasti, tidak tentu, yang penekanannya pada penalaran dan pembuatan
keputusan. Sebagai contoh,
dalam matematika angka 50 pasti lebih besar dibanding 45; dalam
statistik angka 50 belum tentu lebih besar secara signifikan dibanding
45.
Definisi-Definisi Statistik
Banyak sekali definisi mengenai statistik yang dapat ditemukan dalam buku-buku teks statistik. Dari sekian banyak definisi tersebut, ada beberapa yang dapat dikemukakan di sini
Menurut
Thorne (1980:3), statistik adalah seperangkat alat yang berkepentingan
dengan pengumpulan, pengorganisasian, dan analisis fakta-fakta numerik. Dengan
makna yang hampir sama, Pasaribu (1981:22) mengemukakan bahwa statistik
menyediakan berbagai alat dan cara untuk mencari kembali keterangan
yang seolah-olah tersembunyi di dalam angka-angka statistik. Kedua definisi tersebut menyepakati statistik sebagai suatu “alat” yang digunakan dalam menangani data kuantitatif. Hal
ini juga tidak jauh berbeda dengan pendapat Ary, Jacobs, dan Razavieh
(1979:91) yang mengatakan bahwa prosedur statistik pada dasarnya
merupakan metode untuk menangani informasi kuantitatif dalam cara
tertentu sehingga membuat informasi yang diperoleh menjadi bermakna. Dalam
definisi inipun kelihatan bahwa statistik sebagai alat untuk menangani
data kuantitatif, meskipun memberikan penekanan sebagai suatu prosedur. Demikian juga Hovarth (1985:6) meskipun dengan pengertian yang “umum” mengemukakan bahwa statistik adalah kumpulan peraturan dan prosedur untuk mengevaluasi dan membuat keputusan mengenai hasil observasi ilmiah. Definisi
yang mengarahkan pada klasifikasi statistik (statistik deskriptif dan
statistik inferensial) dikemukakan oleh McCall (1980:18). Ia
mengemukakan bahwa statistik mempelajari tentang metode mendeskripsikan
dan menginterpretasikan informasi kuantitatif, termasuk teknik
mengorganisasi dan merangkum data, teknik membuat generalisasi
(kesimpulan yang berlaku umum) dan inferensi dari data. Arah
pengklasifikasian ini tampak pada istilah “mendeskripsikan” sebagai
“statistik deskriptif” dan menginterpretasikan” sebagai “statistik
inferensial”.
Uraian
yang membahas tentang statistik deskriptif dan statistik inferensial
akan dikemukakan pada bagian khusus yang membahas itu.
Dari
definisi-definisi yang dikemukakan tersebut dapat disimpulkan bahwa
statistik berkaitan dengan cara menangani fakta berupa data kuantitatif
yang diperoleh berdasarkan observasi atau pengukuran sehingga data dapat
dideskripsikan atau ditarik kesimpulan dan akhirnya memungkinkan orang
lebih mudah memahami fakta yang ada.
Statistik Deskriptif dan Statistik Inferensial
Dalam definisi sebelumnya disebutkan bahwa statistik berfungsi mendeskripsikan dan menarik kesimpulan (inferensial). Menurut Horvath (1985:5), statistik memiliki dua tujuan utama, yaitu mendeskripsikan dan menarik kesimpulan. Oleh sebab itu dikenal dua jenis statistik, yaitu stastistik deskriptif dan statistik inferensial.
Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif berisi teknik untuk mengorganisasi, meringkas/ menyarikan informasi dari data numerik (Horvath, 1985:5).
Untuk memberikan pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan statistik deskriptif, maka perhatikan contoh berikut ini. Seorang peneliti ingin mengetahui tentang skor hasil belajar metodologi penelitian dari 300 orang mahasiswa di fakultas X. Data dari 300 orang mahasiswa tersebut diperoleh dari arsip nilai pada bagian kemahasiswaan. Si peneliti menyalin nama dan skor masing-masing mahasiswa. Dari contoh tersebut tentu saja diperoleh 300 skor yang bervariasi dari masing-masing mahasiswa. Dapat kita bayangkan berapa lembar kertas yang dibutuhkan untuk menyalin data dari 300 orang mahasiswa tersebut.
Deretan data tersebut, meskipun sudah menyajikan semua data yang dibutuhkan, namun belum dapat memberikan jawaban secara akurat mengenai pertanyaan-pertanyaan seperti: Berapa skor rata-rata dari kelompok mahasis-wa tersebut? Apakah rentang skor semua mahasiswa sempit sehingga variasi skor dapat dikatakan mirip? Atau sebaliknya rentang skor lebar sehingga skor sangat bervariasi? Skor mana yang dapat diidentifikasikan sebagai kelompok tinggi dan mana yang masuk dalam kelompok rendah? Informasi-informasi mengenai pertanyaan-pertanyan tersebut masih membutuhkan perhitungan-perhitungan tertentu. Perhitungan-perhitungan tersebut itulah yang menjadi kawasan operasi statistik deskriptif.
Statistik Inferensial
Menurut Horvath (1985:6) Statistik inferensial (ada
yang menyebut statistik induktif) adalah kumpulan aturan dan prosedur
di mana pernyataan umum tentang orang atau peristiwa dibuat berdasarkan
observasi terhadap jumlah yang relatif sedikit. Dengan kata lain statistik inferensial ini merupakan penggeneralisasian penemuan di luar pengamatan yang dilakukan.
Sebagai contoh, seorang peneliti ingin mengetahui bagaimana sikap mahasiswa IKIP terhadap profesi guru. Berapa jumlah mahasiswa IKIP di Indonesia? Katakanlah jumlah seluruhnya 10.000 orang. Ini jumlah yang tidak kecil. Namun dengan menggunakan teknik statistik inferensial, memungkinkan peneliti untuk mengedarkan angket yang sudah disiapkan kepada sebagian mahasiswa yang dipilih secara acak (random), katakanlah 500 orang. Melalui analisis data dari angket yang diisi oleh 500 orang tersebut, diketahui bahwa sikap mereka terhadap profesi guru ternyata rendah. Apabila prosedur analisis terhadap kelompok kecil sampel ini dilakukan dengan benar, maka kesimpulan hasil tersebut menjadi berlaku bagi seluruh mahasiswa IKIP di Indonesia, yaitu semuanya memiliki sikap yang rendah terhadap profesi guru. Jadi kesimpulan bukan hanya berlaku pada 500 orang yang dijadikan sampel. Dengan demikian teknik statistik inferensial adalah alat mengumpulkan suatu fakta mengenai populasi yang besar dengan hanya menggunakan data dari sampel yang relatif kecil. Itulah sebabnya Horvath (1985:6) mengatakan bahwa statistik ini merupakan "jantung" dari kegiatan ilmiah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar